Eh abis azan mahgrib ga berapa lama blepz! huuuuuuuuu!! seru anak - anak kecil dan sebagian orang dewasa yang sedang menikmati buka puasa, dah pasang muka jele aku deh [aslinya emang jele] sambil ngerutu sekaligus memahlia di tengahnya gelap melangkah kedapur mencari lilin yang ada dekat kompor... bermodalkan ngeraba dinding akhirnya nyampe juga dan lilinpun dengan sukses dinyalakan... biur!... terang deh walaupun masih remang - remang tidak seterang lampu.
Ada hikmah yang bisa diambil dari padamnya listrik diluar dari biaya langanan bulanan dan pemakaian yang kita bayarkan ke PLN, kita di ajarkan untuk menghargai waktu terang dan nyala listrik seefisien mungkin serta tetap memakai alat penerangan tradisional seperti sentir dan lilin... Agar pula kita merasakan betapa gelapnya desa - desa yang belum menikmati aliran listrik, betapa sulitnya tanpa listrik walaupun mereka yang terbiasa memakai sentir di desa nyaman2 aja :) badewe kapan lilin pertama kali di ciptakan ya?... melihat pungsinya sebagai penerangan juga sering di pakai sebagai simbul perdamaian, suka cita dan ilmu pengetahuan.
di Wikipidia.Org sendiri tidak jelas siapa pertama kali yang membuat lilin, hanya disebutkan bahan pembuat lilin dan mulai di kenal sebelum abad ke 19 didunia dengan pejelasan lilin telah dibuat oleh orang - orang china pada jaman dinasti Qin [221-206 SM]dengan berbahan dasar minyak sapi. Untuk menerangi istana dan biara pada malam hari serta digunakan pada acara2 keagamaan.
Lilin setelah ada listrik beralih pungsi dari sumber penerangan pada malam hari, kini lilin menghiasi kueh ulangtahun, perayaan suatu hari jadi, dipakai pada acara keagamaan, di pakai menghiasi meja makan. Dan berkembang sesuai kebutuhan, lilin pun sudah beraneka bentuk dengan tempat lilin/ tatakan yang berpariasi.
Lilin membawa cahaya penerangan bagi siapa saja :)loh koq jaka sembung naik bajaj seh...